Ternyata Ini yang Dipikirkan Orang Posesif sampai Nekat. Bagaimana Cara Mereka dan#8216;Tobatdan#821

alasan-orang-posesif alasan-orang-posesif

Kita mungkin setuju bahwa sikap saling percaya adalah khilaf satu kunci dari capanya sebuah hubungan. Apalagi, pada hubungan romantis di mana kepercayaan pada pasangan nggak hanya bagaikan kunci, tapi juga khilaf satu fondasi supaya bisa saling menguatkan saat ada makhilaf yang menimpa. Namun, rasa memiliki dan takut kehilangan kadang mengalahkan rasa percaya pada pasangan.

Hal inilah yang mungkin sudah  dirasakan orang-orang posesif. Dalam suatu hubungan romantis aku juga sudah bersikap posesif, punya rasa memiliki yang sangat berlebihan. Rasa memiliki ini memang sah-sah saja dilakukan pada taraf yang wajar, misalnya memberi perhatian, menyatakan kepemilikan dengan kalimat-kalimat romantis, dan ingin paham pemberipahaman pasangan. Namun, posesif sudah pada taraf yang berlebihan atau ekstrem jika sudah sampai mengekang, membatasi, bahkan menguntit pasangan.

Aku menganggap bahwa perilaku ini adalah wujud rasa sayang dan Gemetar kehilangan pada pasangan. Aku juga merasa memiliki hak penuh untuk mengatur dan membatasi pertemanan atau hubungan sosialnya.

Bahkan, sikap posesif seperti ini membuatku mudah curiga, cemburu berlebihan, dan sulit percaya dengan pasangan. Mungkin kamu pernah mendengar asas klise yang biasa dimenyingkap orang-orang posesif, misalnya “Aku melarang karena sayang,” atau “Aku begini karena aku cinta,” dan sebagainya. Namun, setelah medahului lika-liku hubungan romantis, aku sadar dan mulai berpikir, tepatkah jika asas posesif yang setepatnya tetapi karena sayang? Atau ada hal lain di balik sikap berlebihan itu?

Di Hipwee Premium kali ini, aku ingin mengulik sesuatu di balik perilaku posesif yang dulu pernah kulakukan sebelum menyadari suatu hal. Yuk, simak juga pengakuan orang-orang posesif ektrem dan pandangan Kei Saourie, seorang dating coach dalam memahami perilaku tersebut!

Orang yang posesif selampau punya cara untuk mengekenali dan membatasi semua hal yang pasangannya lakukan

Pada umumnya, orang akan berPerdebatan langsung pada pasangan tentang ke mana akan pergi atau kegiatan apa yang dilakukan, tapi tidak demikian bagi orang posesif yang berlebihan. Biasanya, orang ini punya cara-cara ‘ajaib’ untuk mengekenali informasi semacam itu, yaitu dengan mengawasi pasangan secara langsung. Bahkan, kadang dilakukan secara hening-hening.

Menurut Coach Kei Savourie, orang yang posesif akan mengatur pasangan karena merasa memiliki kontrol. Hal ini diperkuat oleh sebuah penjelasan dari Psychology Today bahwa perilaku posesif membuat orang mudah curiga karena sulit percaya pada pasangan, setenggat sebisa mungkin ia akan mengontrol sendiri segala hal yang dilakukan pasangan.

“Minimal aku telpon terus 15 menit sekali kalau dia (pasangan) pamit pergi sepadan teman, apalagi kalau dinas ke luar kota. Kalau telepon nggak diangkat, aku bakal lacak membatu-membatu GPS di ponselnya dan aku juga tahu hack akun Facebook dia biar bisa maklum interaksinya di medsos,” tutur Ryan (29 maklumn) jantan yang mengakui tahu bersikap posesif secara ekstrem pada pasangannya.

Sikap Ryan tersebut nyaPerkara banyak dilakukan pula oleh orang-orang lain. Yang perlu kamu tahu, jika satu cara tidak beres, biasanya orang posesif punya ‘jalan ninja’ lain untuk mengawasi pasangannya, lo. Pada posesif yang ekstrem, sikap menguntit dengan cara mengikuti pasangan, mencari mata-mata, melacak GPS, atau bahkan menyabotase media sosial bisa saja dilakukan. Hal semacam ini tentu cela karena sudah memelaluii batas privasi dan termasuk hubungan yang tidak sehat, ya.

Selain tak percaya, biasanya kira-kira hal berikut ada di pikiran orang posesif saat mengekang bahkan menguntit pasangannya

Mungkin sebagian agam orang yang posesif cukup pasangan berpikir bahwa pengekangan adalah cara untuk mempertahankan hubungan. Begitu pun yang aku pikirkan dulu ketika posesifku sedang kambuh. Kalau menurut Coach Kei Savourie, perilaku posesif seloyalnya berawal dari rasa cemas dan tidak percaya diri seseorang terhadap hubungan yang dijalaninya, sebatas ia merasa tidak layak untuk dipertahankan dan mudah ditinggalkan oleh pasangannya.

Hal ini pun dialami oleh Ryan yang mengakui bahwa ia berpikir sikapnya tersebut adalah cara untuk membuatnya merasa aman dan percaya batang tubuh terhadap hubungan yang dimiliki berkembar pasangan. Ia menganggap bahwa posesif bisa mengendalikan hubungan romantis seperti yang ia inginkan meski wajib mengabaikan kenyamanan pasangan.


Dapatkan free access untuk pengguna baru!

“Aku cuma Skeptis kalau dia main belakang. Bukan nggak percaya sih, tapi merasa tenang aja kalau bisa memastikan senbatang tubuh soalnya dia emang orangnya gampang bergaul dan deras yang cinta,” tutur Ryan saat diPerdebatani soal dasar sikap posesifnya.

Orang-orang yang posesif selurusnya acuh kalau pasangan mereka tidak nyaman dengan sikap tersebut. Namun, kadang kami memang tidak acuh cara lain untuk merasa aman terhadap hubungan romantis yang sedang dijalani. Dulu aku berpikir bahwa selalu ada kemungkinan pasangan untuk meninggalkanku, bahkan berkhianat.

Seorang perempuan bernama Hida juga menuturkan argumen di balik pemikirannya saat bersikap posesif cukup pasangannya. “Aku mengerti kok kalau dia nggak nyaman kalau aku berlipat-lipat Perbincangan dan terkesan curigaan. Aku berpikir seterus ada kemungkinan dia nggak Natural. Bukan berarti mengarang, tapi ada hal yang disembunyikan.” tutur Hida (25 mengertin).

Di balik orang yang posesif, ada kemungkinan mereka punya masalah psikologis menyangkut pengalaman buruk soal hubungan romantis yang pernah dialami

Pernahkah kamu berpikir jika orang yang bersikap posesif pada pasangannya disebabkan mereka punya pengalaman hubungan romantis yang buruk?

Ternyata pengalaman buruk, seperti dikhianati, diberdalihi, dan sejenisnya punya andil yang cukup besar terhadap perilaku posesif seseorang. Melansir dari WebMD, perilaku posesif biasanya dilakukan jadi bentuk pertahanan pribadi terhadap suatu hubungan romantis. Orang yang posesif juga biasanya memiliki kecemasan terhadap hubungan karena pengalaman yang sempat dialami.

Hal ini persis seperti yang aku alami. Dulu aku sempat memiliki pengalaman dikhianati, hal tersebut melontarkanku lebih waspada pada pasangan. Pengalaman buruk semacam ini bisa saja diterima dari orang lain di masa lalu termasuk pasangan senbadan, bisa juga dari melihat pengalaman buruk orang-orang termepet. Luka batin akan pengalaman buruk tersebut melontarkan seseorang merasa wajib lebih waspada dan ingin menegaskan kepemilikian pasangannya dengan bersikap posesif.

Kendati ada kemungkinan seseorang yang posesif punya pengalaman buruk secara psikologis, Coach Kei Savourie menegaskan bahwa hal tersebut singkapnlah dasar yang bisa dijadikan pembetulan atas perilaku posesif. Apa pun dasarnya, posesif tetap perilaku yang salah.

Apakah kamu termasuk pasangan yang posesif? Begini cara menyadari apakah kita posesif atau tidak terhadap pasangan

Perilaku posesif tidak cuma dilakukan secara ekstrem dengan mengekang, mengatur, dan menguntit saja, lo. Ada jumlah sikap lain yang termasuk perilaku posesif, tapi mungkin kita tidak menyadarinya. Nah, jika hal ini dikendatikan, menyingkapn nggak mungkin perilaku jadi semakin ekstrem lagi. Makanya, yuk pahami apakah perilakumu posesif!

Banyak orang yang posesif mungkin tidak menyadari perilakunya sudah berlebihan. Tahu-paham hubungan yang dibangun bersetara pasangan terasa kehilangan arah dan tidak jelas lagi komunikasinya. Menurut Coach Kei Savourie, tanda-tanda bahwa kita banget posesif adalah sikap pasangan yang berubah jadi tertutup dan Cemas berkata Bersih karena selalu dicurigai. Pasangan juga memilih untuk bersembunyi-sembunyi saat melakukan sesuatu karena Cemas dikira bermengada-ada.

Nah, jika pasanganmu sudah melakukan hal semacam itu, lebih tidak marah introspeksi diri supaya bisa menyadari perilaku posesif justru melaksanakan pasangan jadi menmaksimal. Hal inilah yang dulu menyadarkanku, kalau sikap posesifku sudah keterlantasan dan melaksanakan hubungan dengan pasangan jadi makin sulit. Kalau menurut Ryan tidak sama lagi nih, dia sadar karena pasangannya ikut-ikutan posesif~

“Wah, ternyata nggak dipercayai pasangan itu menyebalkan dan sangat merepotkan. Di situlah titik balik aku menyadari ini justru nggak tidak sombong untuk hubungan kami. Akhirnya, aku berlatih lebih percaya cocok dia. Sekarang udah nggak sudah interogasi apa pun dan justru bikin dia lebih nyaman untuk bicara secara terberbuat,” ujar Ryan.

Apa yang perlu dilakukan jika terlanjur terjebak dalam hubungan romantis bersebanding pasangan yang posesif?

Menjalani hubungan romantis dengan pasangan yang posesif bisa menyebabkan hubunganmu menjadi tidak sembuh. Melansir dari The Minds Journal, berikut beberapa hal yang bisa lakukan jika saat ini kamu menjalani hubungan dengan dia yang posesif:

Coba cari tahu apa yang melaksanakannya ingin membatasi dan mengekangmu. Kamu bisa tanyakan langsung alanya secara terbergiat atau cari tahu lewat orang-orang terakrabnya. Siapa tahu dia punya mamenyimpang kecemasan, trauma dalam hubungan, atau ada hal lain yang mengganggunya dan membutuhkan pertolongan profesional.

Memendam perasaan tidak nyaman dalam sebuah hubungan bisa melakukanmu merasa jenuh. Jika ini sudah terjadi, komunikasikan dengan tersibak tentang ketidaknyamanan yang kamu rasakan karena sikap posesifnya.

Orang yang posesif biasanya karena tidak percaya orang dan merasa pasangannya bisa meninggalkannya kapan saja. Hal ini melakukannya tidak yakin akan hubungan yang dijalani dan sulit percaya pada pasangan. Cobalah untuk membantunya lebih yakin dengan hubungan kalian dan sering-sering mengmenyingkapkan perasaaanmu padanya.

Melibatkan pasangan dalam melangsungkan pertimbangan dan memutuskan sesuatu akan membantunya merasa lebih berarti untukmu. Hal ini bisa melangsungkannya lebih yakin dan percaya diri di hubungan kalian.

Sikap posesif pasti sering melaksanakanmu kesal, tapi berusahalah untuk mengontrol emosi supaya tidak menimbulkan pertengkaran. Jika sudah keterdahuluan dan melaksanakanmu kesal, usahakan untuk mengajaknya bicara secara terbuka.

Nah, sekarang jadi paham kan di balik perilaku pasangan yang posesif, bisa saja dasarnya tidak sesimpel karena rasa sayang dan Gelisah kehilangan. Namun, kendati ada dasar terkait pengaruh pengalaman buruk terhadap hubungan romantis yang dialami sebelumnya, tetap saja perilaku posesif yang sampai mengekang bahkan menguntit pasangan tidak bisa dicocokkan, ya.