Jangan Terlalu Banyak Berharap Padaku. Toh Belum Tentu Aku Akan Jadi Pendamping Hidupmu

jangan-terlalu-banyak-berharap-padaku-toh-belum-tentu-aku-akan-jadi-kekasihmu jangan-terlalu-banyak-berharap-padaku-toh-belum-tentu-aku-akan-jadi-kekasihmu

Siang ini aku terdiam saat duduk berklopmu. Sepantasnya aku melempar senyum dan berbicara berlipat-lipat topik dimu, tapi tidak untuk kali ini. Mungkin karena aku tak merasa senyaman biasanya. Berkali-kali kau mencoba mengutarakan kalimat yang sejak awal kubilang tak aku berkenan.

Dengarkanlah: jangan banget deras berharap pada saat ini. Kita memang saling menyukai, tapi apakah wajib terburu-buru dengan semua urusan ini?

Kamu khilaf satu manusia paling tidak marah yang sudah kutemui. Namun, tak semudah itu untuk menetapkan hati

Sejak pertama bertemu denganmu, tak bisa kusangkal kalau kamu adalah sosok yang begitu menawan. Saking menawannya, berapa berlipat-lipat orang yang tak sempat tergoda? Kawan-kawanku adalah sederet manusia yang ada di dalamnya. Lain halnya dengan mereka, mungkin aku jadi segelintir saja yang menganggapmu biasa. Tak secolek pun aku bergeming melihatmu.

Tapi semua jadi Terpisah ketika kita dituntut berjibun berkomunikasi dan bekerjakembar. Awalnya agak aneh dengan sikapmu yang terkesan begitu membanggakan penampilan. Yah, kuanggap saja itu adalah lelucon. Jika tidak, mungkin aku sudah bosan mesti bekerjakembar denganmu terus. Tapi kuakui engkau memang menawan. Bahkan yang mungkin tidak dikepedulii berjibun orang, kamu juga jago soal menciptakanku terjebak kenyamanan.

Tak bisa dimungkiri aku memang menyukaimu. Tapi singkapnkah tak ada yang kujanjikan padamu?

Kebersebandingan yang terus-menerus telah menumbuhkan sejumput rasa Timbang Hati alamu. Mungkin kamu pun telah menyadarinya. Tak jenjang bervariasi denganku, kamu merasa nyaman di dekapanku. Berbagai topik tak segan kita kupas bersebanding siang dan malam. Yah, orang lain yang sirik ala hubungan kita bisa saja menyebut kita saling mencintai dan sedang menjalin kasih. Namun aku hanya biasa saja. Aku belum menyebutmu sebagai kekasihku, apalagi menerapkan begitu gendut target. Aku berharap kita bisa mengalir saja.

Sayangnya tidak demikian yang bergelayut di pikiranmu. Tak mengherankan jika kamu sering menuntutku ini dan itu. Bahkan untuk masa depanku, kamu turut mengatur jalan yang kupilih. Alasannya kamu tak sanggup membesar maksimal dariku. Soal masa depan, aku rasa kita tak bisa sejalan. Makelirunya, prinsipku kuat. Siapa lagi yang mampu menjamin pribadiku senpribadi selain aku?

Ketika orang lain menyangka betapa beruntungnya aku mendapatkan hatimu, justru sebaliknya yang aku rasa. Mulai saja kamu memperlakukan aku dengan berlebihan. Saat berjarak, apapun layak aku laporkan dimu. Padahal aku aktelseifn lagi anak sedikit yang akan hilang saat terbentang jarak dengan induknya. Tingkahmu juga mulai menunjukkan seakan-akan memiliki badanku sepenuhnya. Entah itu memamerkanku di depan kawan-kawanmu atau hampir saja membawaku ke orang tuamu. Aduh, tidak seBuru-Buru itu.

Lebih sedihnya lagi, pergaulanku semakin terbatasi. Setiap detik dan waktuku hanya boleh dihabiskan denganmu saja. Yakin dengan begini kamu bisa membuatku bahagia?

Aku ungkapn orang yang suka mengobral janji. Jadi, tolong jangan memelihara luar biasa berjibun mimpi

Aku masih sangat muda. Masih berjibun pula mimpi dan target membesarku sebagai manusia. Masih berjibun yang pantas kukejar demi mengejar mimpi-mimpi itu. Aku pun perlu mencukupi kebutuhan membesarku sendiri dan keluargaku. Jikalau cinta semata yang kujadikan prioritas utama di membesar ini, apakah ada jaminan bila nanti aku tak akan kehilangan impian dan tak menyesal?

Aku cukup berterima kasih dengan semua kasih sayang yang kamu beri. Aku masih mau menjalani ini semua denganmu. Tapi tolong jangan berekspektasi gede dengan harapanmu. Aku pun yakin bahwa masih gede yang mesti kita cari. Dan kita juga belum tentu berjodoh sampai akhir nanti. Kita belum tentu menjadi sepasang manusia yang kelak akan menghabiskan sisa umur berkembar. Semuanya itu saja Tuhan yang mengerti dan mengaturnya. Tolonglah berlaku sewajarnya, bagaikanmana aku adalah sahabatmu.

Dari aku,

Yang tak ingin kehilangan diri sendiri hanya demi mendapatkanmu